SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang memberikan insentif sebesar Rp1 juta bagi pria yang bersedia menjalani vasektomi, sebagai langkah untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam program Keluarga Berencana (KB).
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB) Kota Semarang, Lilik Farida, menyebutkan capaian program KB di kota ini terus meningkat signifikan.
“Tahun ini capaian KB telah mencapai 77 persen, dengan peningkatan tertinggi pada metode kontrasepsi jangka panjang. Fokus kami adalah KB pasca-salin, karena langkah ini berkontribusi menurunkan risiko stunting,” ujarnya, Kamis, 13 November 2025.
Syarat Insentif untuk Peserta Vasektomi
Lilik menjelaskan, program insentif vasektomi diberikan kepada pria yang memiliki minimal dua anak, dengan anak bungsu berusia lima tahun ke atas.
“Rata-rata peserta vasektomi berusia sekitar 33 tahun. Namun jika istri memiliki kondisi medis tertentu, vasektomi bisa dilakukan lebih awal,” katanya.
Data Disdalduk KB mencatat, peserta vasektomi meningkat tajam, dari 46 orang pada 2024 menjadi lebih dari 100 orang di 2025.
Peningkatan ini juga dipengaruhi oleh perubahan perilaku generasi muda yang kini lebih fokus pada pendidikan, karier, dan perencanaan masa depan sebelum menikah.
“Masyarakat pria kini mulai melirik vasektomi, tapi mereka lebih nyaman jika tindakan dilakukan di rumah sakit oleh tenaga ahli. Karena itu, kami menggandeng dokter spesialis agar pelayanan lebih aman,” jelas Lilik.
DPRD Ingatkan Soal Sosialisasi
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Arya Setya Novanto, menilai program insentif Rp1 juta bagi peserta vasektomi merupakan langkah positif untuk mendorong kesetaraan gender dalam KB.
“Program ini bagus karena tidak hanya perempuan yang dibebani urusan KB, tapi juga laki-laki bisa ikut berperan. Hanya saja pelaksanaannya harus sesuai ketentuan,” ujarnya.
Arya menegaskan pentingnya sosialisasi menyeluruh agar masyarakat memahami manfaat dan risiko vasektomi sebelum memutuskan ikut program.
“Jangan sampai hanya tergiur insentif tanpa memahami kondisi kesehatan atau syarat medisnya. Harus ada seleksi yang jelas,” tegasnya.
Pastikan Tepat Sasaran dan Efektif
Menurut Arya, peserta vasektomi ideal adalah pria yang sudah memiliki dua anak dan tidak lagi berada dalam usia produktif. “Kalau masih usia produktif tapi diajak vasektomi, perlu dievaluasi. Program ini harus tepat sasaran,” katanya.
Ia juga meminta Disdalduk KB untuk melaporkan hasil evaluasi penggunaan anggaran dan dampak program terhadap masyarakat. “Kami akan menanyakan efektivitas dan penyerapan anggaran dalam rapat kerja daerah (RKPD) mendatang,” ungkapnya.
Meski begitu, Arya menilai insentif Rp1 juta masih tergolong wajar sebagai bentuk stimulus bagi pria agar lebih terbuka terhadap program KB.
“Nilainya cukup sebagai motivasi. Banyak yang masih salah paham mengira vasektomi mengurangi kejantanan, padahal tidak,” pungkasnya.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki










