BLORA, Harianmuria.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Blora menggelar Festival Literasi Blora 2025 selama lima hari, mulai 11 hingga 15 November 2025, di halaman Perpustakaan Daerah (Perpusda) Blora.
Kepala DPK Blora, Mohamad Toha Mustofa, mengatakan festival ini menampilkan berbagai kegiatan, mulai dari pameran buku, karya perpustakaan desa, hasil UMKM, dokumen arsip, hingga benda purbakala yang ada di Kabupaten Blora.
“Tujuan festival ini agar masyarakat tahu apa saja yang telah terjadi di Kabupaten Blora,” ujar Toha, Selasa, 11 November 2025.
Kegiatan Literasi dari DAK Non-Fisik
Toha menjelaskan, festival ini merupakan bagian dari program yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik dari Perpusnas RI. Kegiatan sebelumnya yang didukung DAK non-fisik antara lain lomba bertutur, bimtek kepenulisan, pembuatan konten video inovatif, resensi buku, dan bedah buku.
Menurutnya, setiap kegiatan selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat Blora, sehingga pihak DPK menerapkan sistem seleksi dalam tiap kegiatan.
“Kami tidak menjatah sekolah tertentu, pengumumannya disebarkan secara publik. Siapa yang ingin ikut, bisa mendaftar. Alhamdulillah, peminatnya selalu membludak, sehingga ada seleksi,” jelas Toha.
Menurut Toha, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kesadaran literasi yang terus meningkat. Contohnya, pada pemilihan Duta Literasi Kabupaten Blora, dalam dua hari pendaftaran, tercatat 170 siswa mendaftar.
“Jika pendaftaran diperpanjang, jumlah peserta bisa berlipat ganda. Ini sangat membanggakan bagi kami,” tambahnya.
DPK Blora juga menjalin kerja sama dengan PKK dan Dharma Wanita untuk mendorong minat baca sejak usia dini. Program literasi ini bertujuan memberi pengalaman menyenangkan bagi anak-anak agar gemar membaca.
Aplikasi e-Mustika, Akses Buku Tanpa Batas
Sebagai upaya menjaga budaya literasi di era digital, DPK Blora kini menghadirkan perpustakaan elektronik bernama e-Mustika. Aplikasi ini bisa diunduh melalui Play Store, memungkinkan masyarakat membaca koleksi buku digital kapan pun dan di mana pun.
“Kami ingin perpustakaan bisa diakses oleh siapa saja dan dari mana saja,” tutup Toha.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










