BLORA, Harianmuria.com – Kelompok Tani Ternak Rukun Petani Jaya di Desa Ketringan, Kecamatan Jiken, Blora, kini menjadi percontohan pemasangan alat purifikasi biogas. Inovasi ini dikembangkan oleh Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan, Jawa Tengah.
Kepala Seksi Energi Cabang Dinas ESDM Kendeng Selatan, Sinung Sugeng Arianto, menyatakan bahwa pemasangan alat purifikasi biogas bertujuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada energi fosil. Menurutnya, Blora menjadi lokasi pertama di Kendeng Selatan yang menerapkan inovasi ini.
“Inovasi ini menjadi nomor dua di Jawa Tengah setelah Ungaran dan Telomoyo. Blora sendiri dikenal sebagai daerah penghasil sapi terbesar di Jawa Tengah,” ujar Sinung, Jumat, 24 Oktober 2025.
Potensi Besar Produksi Biogas Blora
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Blora memiliki populasi sekitar 170 ribu ekor sapi. Jumlah ini cukup untuk memasok 8.500 unit digester biogas berkapasitas 20 meter kubik.
“Satu unit digester dapat memenuhi kebutuhan gas bagi 6–10 rumah tangga. Artinya, potensi energi terbarukan di Blora sangat besar,” katanya.
Namun, ia menambahkan bahwa pemanfaatan biogas masih terbatas karena masyarakat menganggap gas elpiji lebih praktis dan murah. Padahal, elpiji murah karena disubsidi dan sebagian besar diimpor, sehingga membebani anggaran negara.
Alat Purifikasi Tingkatkan Kualitas Biogas
Salah satu tantangan utama dalam pemanfaatan biogas adalah kualitas gas mentah yang masih mengandung berbagai unsur selain metana (CH₄), seperti hidrogen sulfida (H₂S), karbon dioksida (CO₂), dan uap air (H₂O).
“Dari campuran tersebut, hanya metana yang bermanfaat sebagai bahan bakar, sementara gas lain bersifat korosif dan menurunkan efisiensi pembakaran,” tuturnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Cabdin ESDM Kendeng Selatan menciptakan alat purifikasi biogas sederhana yang mudah dibuat masyarakat dengan biaya terjangkau.
“Alat ini menggunakan casing pemurni air berisi zeolit, peroksida atau arang aktif, dan silika biru. Semua bahan mudah didapat di toko pertanian, ikan hias, atau apotek,” jelas Sinung.
Dari hasil uji coba, alat tersebut berhasil menurunkan kadar H₂S, CO₂, dan uap air hingga mendekati 0 ppm, sekaligus meningkatkan kadar metana hingga di atas 90 persen.
Energi Bersih untuk Desa
Ketua Kelompok Tani Ternak Rukun Petani Jaya, Ranu, berharap gas metana hasil purifikasi bisa dikemas dan disalurkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun bahan bakar genset.
“Kami berharap inovasi ini bisa jadi contoh bagi desa lain di Blora agar beralih ke energi bersih yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










