PATI, Harianmuria.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati menyebut, rusaknya 21 rumah ruko di Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Pati pada Sabtu malam (7/9), dipastikan bukan karena adanya gempa. Melainkan akibat aktivitas alat berat saat normalisasi dan pembuatan tanggul di Sungai Silugonggo yang dipengaruhi oleh menyusutnya debit sungai, sehingga terjadi pergerakan tanah di bantaran sungai.
“Ada kesamaan dengan kejadian di Pulau Serapat Juwana. Dua kejadian itu tidak bersamaan dengan gempa yang terjadi di Gianyar Bali dan Sukabumi Jawa Barat,” ungkap Kepala BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, Minggu (8/9).
Pihaknya menyebut, dengan kondisi air yang semakin surut ini, membuat daya ikat tanah di sekitaran sungau menjadi berkurang. Hal ini menurutnya harus membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Sementara itu Kepala Desa Purworejo, Dwi Sumaryono membenarkan kejadian yang terjadi di wilayahnya tersebut. Dikatakan diantara 21 bangunan yang terdampak, ada dua rumah yang rusak parah milik Sumadi (37) dan Budi (35).
Ia mengungkapkan, warga sudah mulai merasakan adanya pergerakan tanah sejak hari Jumat lalu dan baru berdampak pada Sabtu malam, dengan panjang keretakan tanah sepanjang kurang lebih 400 meter.
“Awalnya warga merasakan adanya getaran tanah. Ketika dicek, ternyata ada retakan di tanah yang sudah menjalar ke dinding rumah,” imbuhnya.
Kini pemilik rumah juga sudah mengosongkan bangunan yang ditandai dengan garis bewarna kuning tersebut. Pihaknya selaku pemerintah desa juga telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), DPUTR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang), BPBD, serta PT WIKA selaku pelaksana proyek. (ARIF FEBRIYANTO – LINGKAR NETWORK)










