KUDUS, Harianmuria.com – Camat Kaliwungu Satria Agus Himawan bersama tim dari Puskesmas Kaliwungu dan Kepala Desa menyambangi Suripah (50), warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus pada Kamis (6/2/2025) siang. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap Suripah yang hidup sendiri sambil berjuang melawan penyakit lupus.
Dalam kunjungan itu, Camat Kaliwungu Satria Agus Himawan memberikan bantuan berupa sembako dan obat-obatan. Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Puskesmas Kaliwungu untuk melakukan pemantauan kesehatan Suripah secara berkala. Hal ini penting, mengingat Suripah harus menjalani kontrol rutin ke RSUP dr. Kariadi Semarang setiap bulan.
“Kami berupaya agar Bu Suripah bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih baik. Jika memungkinkan, kami akan koordinasikan dengan RSUD Kudus agar beliau bisa berobat lebih dekat. Minimal, kami akan mengupayakan fasilitas ambulans agar memudahkan beliau dalam perjalanan ke RSUP dr. Kariadi,” ujar Satria Agus Himawan.
Selain bantuan kesehatan, pemerintah juga berusaha meringankan beban ekonomi Suripah. Mengingat tahun lalu, ia sudah menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Saat ini pihak kecamatan berupaya agar namanya bisa masuk ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Dengan demikian, ia bisa mendapatkan bantuan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) atau Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).
Terkait kepesertaan BPJS, saat ini Suripah masih menggunakan BPJS mandiri. Namun, pemerintah desa tengah mengajukan agar ia bisa mendapatkan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai APBD Kudus.
“Prosesnya masih dalam tahap pengajuan di Dinas Sosial. Harapannya, agar Bu Suripah tidak lagi terbebani biaya BPJS secara mandiri,” ucap Satria.
Sementara itu, Suripah menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan.
“Terima kasih sudah membantu saya. Semoga bermanfaat,” kata Suripah. Diketahui, Suripah telah tujuh tahun mengidap lupus, penyakit autoimun yang menyerang jaringan tubuh. Setiap bulan, ia harus berobat ke Semarang. Jika terlambat menjalani pengobatan, tubuhnya akan membiru dan nyeri di sekujur tubuh. Meski hidup sendiri di gubuk kecilnya, Suripah tetap berjuang melawan sepi dan penyakitnya, dengan harapan bisa sembuh di masa depan. (FAHTUR ROHMAN – Harianmuria.com)









