SALATIGA, Harianmuria.com – Perilaku seks bebas masih menjadi faktor utama meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kota Salatiga.
Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat bahwa temuan baru pada 2025 didominasi oleh hubungan seksual berisiko, terutama pada kelompok LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki).
“Kami melihat penyumbang terbesar kasus baru HIV/AIDS di Salatiga adalah seks bebas, terutama pada kelompok LSL,” ujar Kepala Dinkes Kota Salatiga, Prasit Al Hakim, Kamis, 11 Desember 2025.
Ada Kasus Penularan dari Ibu ke Anak
Selain perilaku seks bebas, Dinas Kesehatan juga mencatat temuan kasus penularan dari ibu ke anak. “Ada dua anak positif HIV yang lahir dari ibu ODHIV (Orang dengan HIV),” ujarnya.
Prasit menyatakan, temuan tersebut kembali menegaskan pentingnya deteksi dini pada ibu hamil agar penularan vertikal dapat dicegah.
Skrining HIV Libatkan Berbagai Sektor
Untuk menekan jumlah kasus baru, Dinas Kesehatan memperluas layanan skrining HIV, TB, dan CKG melalui kolaborasi dengan berbagai instansi, termasuk perusahaan, pabrik, kampus, perhotelan, LSM penjangkau, KPA, serta komunitas.
“Kami memiliki 14 faskes yang menyediakan tes HIV dan 12 faskes yang melayani terapi ARV – terdiri dari 6 puskesmas, 1 klinik paru, dan 5 rumah sakit. Stok ARV kami aman dan mudah diakses 100 persen,” tegas Prasit.

Tren Kasus HIV 3 Tahun Terakhir
Data Dinkes menunjukkan bahwa temuan kasus baru HIV/AIDS dalam tiga tahun terakhir cenderung berfluktuasi. Pada 2023 tercatat 86 kasus, meningkat menjadi 104 kasus pada 2024, dan hingga Januari–Oktober 2025 ditemukan 78 kasus.
Kelompok usia 20–24 tahun menjadi rentang umur dengan kasus tertinggi pada 2025, dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Kondisi ini menunjukkan kerentanan generasi muda terhadap perilaku seksual berisiko.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki









