KUDUS, Harianmuria.com – Kirab Ampyang Maulid menjadi tradisi turun temurun yang selalu dilestarikan masyarakat Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati. Tradisi ini digelar setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Total ada sebanyak 30 gunungan hasil alam yang diarak keliling desa dalam Kirab Ampyang Maulid pada Sabtu (8/10). Setiap gunungan diiring oleh perwakilan mushala dan komunitas pemuda yang ada di desa setempat.
Meski sempat diwarnai hujan es, tradisi Kirab Ampyang Maulid tetap berjalan meriah. Masjid Wali At-Taqwa di Desa Loram Kulon pun menjadi tujuan akhir kirab tersebut. Usai doa bersama, masyarakat kemudian antusias berebut nasi kepal yang tertata rapi di atas gunungan.
Muhammad Faisal, salah satu pemuda peserta festival mengaku antusias meski dalam keadaan basah kuyup. Ia bersama teman-teman dari perwakilan Musala Al-Hidayah mengusung gunungan dengan konsep bubur abang putih (merah putih) sebagai tradisi warga ketika ada hajat.
“Hujan-hujan tetap semangat, malah alhamdulillah ini kita anggap rezeki,” katanya.
Kepala Desa Loram Kulon, Taslim menjelaskan bahwa tradisi Ampyang Maulid merupakan bentuk pelestarian budaya warga setempat. Adapun nasi kepel sebagai ikon perayaan ini memiliki sejarah panjang sejak masa penjajahan.
Ia menuturkan, masyarakat meyakini dengan sedekah nasi kepel setiap ada hajat, diharapkan bisa mendapat berkah dan kelancaran dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Taslim menyebut, ada sekitar 500 sampai 1000 nasi kepal yang disajikan dalam tradisi kali ini.
“Desa memfasilitasi nguri-nguri tradisi ampyang maulid yang sudah dimulai dari masa penjajahan. Diikuti mushala-mushala dan komunitas pemuda yang ada di Desa Loram Kulon,” jelasnya.
Tradisi Kirab Ampyang Maulid ini pun turut dihadiri Bupati Kudus HM Hartopo. Dalam sambutannya ia mengaku takjub dengan semangat warga Loram Kulon yang meski diguyur hujan tetap ikut memeriahkan Festival Ampyang Maulid.
Menurutnya, hal tersebut merupakan suatu partisipasi dalam menjaga kearifan lokal yang bernilai sejarah. Dirinya pun mengajak seluruh elemen masyarkat agar terus melestarikan budaya tersebut yang sekaligus sebagai wujud syukur kepada Allah SWT.
“Semangat luar biasa masyarakat, tidak peduli panas hujan, yang penting semangat kebersamaan masyarakat Loram Kulon. Adanya festival dan expo merupakan bentuk rasa syukur dengan hasil bumi yang melimah ruah,” ujarnya.
Kegiatan yang dibarengi dengan Expo Loram Kulon tersebut mendapat apresiasi oleh Bupati Kudus. Dengan dilibatkanya UMKM lokal, dirinya berharap akan bangkitnya roda perekonomian yang berbasis ekonomi kerakyatan. UMKM yang semakin berdaya menjadi tulang punggung bangkitnya ekonomi, khususnya bagi Desa Loram Kulon.
“Expo bentuk kebangkitan di era pandemi, kita dorong demi bangkitnya ekonomi kerakyatan dengan UMKM yang semakin berdaya dan mendongkrak ekonomi masyarakat,” tuturnya. (Lingkar Network | Nisa Hafizhotus Syarifa – Harianmuria.com)









