BLORA, Harianmuria.com – Fenomena tanah ambles di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, makin meluas.
Rekahan tanah baru muncul di sejumlah titik dan mulai merambah ke permukiman warga serta kandang ternak, memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih besar.
Pergerakan tanah yang diduga dipicu gerusan aliran Sungai Lusi tersebut telah berlangsung sekitar lima bulan terakhir dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Rekahan dan Penurunan Tanah Kian Parah
Kapolsek Banjarejo, AKP Gembong, membenarkan adanya rekahan baru yang muncul sekitar satu meter dari rekahan lama. Selain itu, penurunan tanah juga terjadi di beberapa titik baru dengan kedalaman 40 hingga 50 sentimeter.
“Di beberapa lokasi, penurunan terjadi di area yang sebelumnya tidak terdampak,” ujar AKP Gembong, Jumat, 2 Januari 2025.
Ia menambahkan, dampak pergerakan tanah kini tidak hanya memanjang, tetapi juga meluas ke sisi kanan dan kiri, termasuk ke arah permukiman warga.
Baca juga: 3 Rumah Warga di Blora Terdampak Pergerakan Tanah Akibat Gerusan Sungai Lusi
3 Rumah dan Kandang Ternak Terdampak
Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya tiga rumah warga yang masih dihuni serta kandang ternak dilaporkan terdampak langsung. Kerusakan pada bangunan makin parah, dengan kedalaman amblesan yang sebelumnya hanya 10–15 sentimeter kini mencapai hingga 70 sentimeter di beberapa bagian.
“Panjang area terdampak diperkirakan sekitar 200 meter. Namun kini pergerakan tanah tidak lagi memanjang, melainkan meluas ke permukiman,” jelas Gembong.
Upaya Warga Menangani Tanah Ambles
Sejumlah warga terdampak mengaku telah berupaya melakukan penanganan mandiri, meski dengan keterbatasan. Peniwati, salah satu warga, menyebut dalam sebulan terakhir harus menguruk bagian belakang dapur rumahnya menggunakan satu mobil colt dan satu truk material.
“Area yang diuruk panjangnya sekitar tujuh meter dan lebarnya lima meter,” ungkapnya.
Warga lainnya, Nur Hidayah, mengatakan tanah di sekitar rumahnya ambles sepanjang enam meter dengan lebar empat meter.
“Kemarin mau dibuat teras, tapi malah muncul rekahan baru. Akhirnya hanya pengecoran sedikit dan tidak dilanjutkan,” tuturnya.
Baca juga: Tanah Ambrol Ancam 3 Rumah Warga di Buluroto Blora, Kapolsek Usulkan Relokasi
Penurunan Tanah hampir Setiap Hari
Hal serupa dialami Sayid, warga Dukuh Sambiroto lainnya. Ia mencatat area terdampak di lahannya mencapai panjang 12 meter dan lebar sembilan meter, dengan kedalaman hingga satu meter di bagian belakang rumah.
“Tembok saya sudah jebol. Rekahan makin dalam di rumah bagian belakang,” katanya.
Menurut Sayid, penurunan tanah terjadi hampir setiap hari dengan kisaran dua hingga tiga sentimeter. Saat hujan deras, penurunan bisa mencapai lima sentimeter.
Ia juga menyebut kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 1998 dan 2001, namun saat itu amblesan masih berada di dekat sungai. Kini, tanah justru ambles secara vertikal ke bawah, menyebabkan lantai rumah warga retak-retak.
“Semoga pemerintah desa dan instansi terkait segera turun melakukan kajian teknis agar ada penanganan yang tepat,” harapnya.

Dinas PUPR dan BBWS Siap Lakukan Inspeksi
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana telah menerima informasi terkait kekhawatiran warga atas pergerakan tanah tersebut.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Blora, Surat, mengatakan inspeksi lapangan direncanakan akan dilakukan pekan depan.
“Minggu depan rencananya akan dilakukan inspeksi bersama BBWS Pemali Juana,” ujarnya.
Namun hingga saat ini, pihaknya mengaku belum menerima laporan resmi dari pemerintah desa terkait kejadian tersebut.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki









