BLORA, Harianmuria.com – Fenomena tanah ambles di wilayah Kabupaten Blora dinilai dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan yang memengaruhi aliran sungai. Kondisi tersebut menyebabkan tanah di sekitar bantaran sungai mengalami penurunan.
Plt Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan, Hadi Susanto, menjelaskan bahwa faktor utama amblesan tanah di Blora bukan disebabkan oleh aktivitas tektonik, melainkan kondisi alam yang dipengaruhi cuaca ekstrem.
“Terkait amblesan atau gerakan tanah, itu dipicu peningkatan intensitas curah hujan yang tinggi,” ujar Hadi, Minggu, 4 Januari 2025.
Blora Tidak Dilalui Pertemuan Lempeng
Hadi menegaskan bahwa Kabupaten Blora tidak berada di zona pertemuan lempeng tektonik yang berpotensi memicu amblesan tanah. Meski demikian, kondisi geologi Blora yang beragam kontur tanah tetap memiliki potensi terjadinya gerakan tanah.
“Untuk di Blora tidak ada pertemuan lempeng yang seperti dikhawatirkan. Kebanyakan amblesan akibat zona jenuh, yang dipicu intensitas hujan dan aliran sungai,” jelasnya.
Baca juga: Tanah Ambles di Buluroto Blora Meluas, Rekahan Muncul di Rumah Warga dan Kandang Ternak
Tidak Ditemukan Aliran Sungai Bawah Tanah
Terkait dugaan adanya aliran sungai bawah tanah, ESDM menyebut tidak ditemukan indikasi tersebut di lokasi-lokasi yang mengalami amblesan. Namun, penelitian lebih mendalam tetap diperlukan untuk memastikan kondisi bawah permukaan tanah.
“Untuk aliran sungai bawah tanah tidak ada, kecuali di KBAK (Kawasan Bentang Alam Karst). Itu pun harus melalui penelitian yang detail dan komprehensif,” tambah Hadi.
Eksploitasi Minyak Bukan Penyebab Utama
Hadi juga menepis anggapan bahwa aktivitas pengeboran minyak di Kabupaten Blora menjadi penyebab amblesan tanah. Menurutnya, penurunan tanah baru berpotensi terjadi apabila eksploitasi dilakukan secara berlebihan.
“Untuk pengeboran tidak banyak dampak signifikan. Dampak akan muncul jika ada eksploitasi air tanah atau minyak secara berlebihan, dan itu pun harus melalui kajian mendalam,” terangnya.
Baca juga: Tanah Ambles di Buluroto Blora Makin Parah, Pemdes Siapkan Lahan Relokasi Warga

2 Kecamatan di Blora Alami Gerakan Tanah
Berdasarkan catatan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Blora, terdapat dua kecamatan yang terdampak fenomena gerakan tanah, yakni Kecamatan Tunjungan dan Kecamatan Banjarejo.
Di Kecamatan Tunjungan, pergerakan tanah terjadi di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, dengan penurunan tanah mencapai 15 hingga 30 sentimeter dan panjang rekahan sekitar 100 meter.
Akibat kejadian tersebut, dua rumah warga mengalami rusak sedang dan tiga rumah lainnya terancam. Estimasi kerugian di lokasi ini mencapai Rp16 juta, dengan masing-masing rumah terdampak sekitar Rp8 juta.
Di Kecamatan Banjarejo, pergerakan tanah terjadi di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto. Penurunan tanah mencapai sekitar 50 sentimeter dengan panjang rekahan kurang lebih 200 meter. Hingga saat ini, gerakan tanah masih berlangsung dengan laju penurunan sekitar dua sentimeter per hari.
Kerugian akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai Rp30 juta, dengan tiga rumah warga masing-masing mengalami kerugian sekitar Rp10 juta.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki









