BLORA, Harianmuria.com – Penyelidikan dugaan keracunan pada menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa di tiga SMP Kabupaten Blora terhenti sementara. Polres Blora menunggu hasil laboratorium dari Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Semarang untuk menguatkan proses penyelidikan.
Polres Blora Tunggu Hasil Lab
Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, menyampaikan bahwa hingga kini pihaknya belum menerima hasil lab terkait insiden tersebut.
“Hasil lab belum diberikan ke kami, jadi kita belum melanjutkan penyelidikan,” ujarnya, Rabu, 10 Desember 2025.
Ia menjelaskan bahwa Polres Blora, sebagai bagian dari Satuan Tugas (Satgas) MBG, memiliki tugas menelusuri dugaan pidana dalam kasus keracunan tersebut.
“Kita bertugas menelusuri dugaan keracunan itu. Apakah ada unsur-unsur pidana di dalamnya. Jadi hasil lab sebagai penguat penyelidikan,” tegasnya.
Baca juga: Polres Blora Masih Telusuri Sumber Dugaan Keracunan Makanan Siswa SMP
Dinkesda: Hasil Lab Perlu Surat Resmi
Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora, Nur Betsia Bertawati, membenarkan bahwa hasil lab BLK Semarang belum diberikan kepada Polres Blora. Namun hal itu bukan karena ditahan, melainkan karena belum ada surat permintaan resmi.
“Hasil laboratorium adalah rekam medik. Ada regulasi kode etik kedokteran yang harus dijaga kerahasiaannya. Tidak asal memberikan hasil laborat itu,” jelasnya.
“Kami bisa memberikan hasil laboratorium untuk penyelidikan dugaan kasus keracunan kalau ada surat resmi dari Polres,” tambahnya.
Baca juga: Hasil Lab Ungkap Keracunan Ratusan Siswa Blora Disebabkan Bakteri E. Coli di Menu MBG

Hasil Lab Ungkap Kontaminasi E. coli
Sebelumnya, hasil uji lab BLK Semarang menemukan bahwa seluruh sampel – mulai dari menu makanan, muntahan siswa, alat masak, hingga air tandon dapur – positif tercemar bakteri Escherichia coli (E. coli).
Nur Betsia menjelaskan bahwa E. coli sebenarnya bakteri baik, namun jika jumlahnya berlebihan dapat memproduksi racun untuk tubuh.
“Kemungkinan keracunan makanan ini disebabkan oleh pengolahan yang tidak sempurna yang masih memungkinkan bakteri untuk tetap hidup dan berkembang dalam makanan,” tambah Nur.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki









