GROBOGAN, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) mengintensifkan upaya pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melalui program vaksinasi.
Berdasarkan data, hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 8.170 ekor ternak sapi dan kambing telah menerima vaksin PMK.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswanvet) Disnakkan Grobogan, Andreas Iwan Suseno, mengatakan capaian vaksinasi tersebut merupakan bagian dari langkah pencegahan penyebaran PMK di wilayah Grobogan.
“Per Jumat kemarin kami telah melakukan vaksinasi 8.170 ternak kambing dan sapi,” ujarnya, Jumat, 17 Juli 2026.
Selain vaksinasi, Disnakkan juga terus memantau perkembangan kasus PMK. Hingga saat ini tercatat sebanyak 107 kasus PMK di Kabupaten Grobogan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 58 ekor ternak dinyatakan sembuh, 28 ekor masih menjalani penanganan sebagai kasus aktif, sedangkan 21 ekor dipotong paksa atau mati akibat penyakit tersebut.
Andreas menjelaskan, jumlah kasus PMK tahun ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Pada Januari hingga Juli 2025, tercatat sebanyak 146 kasus PMK.
“Pada tahun ini terjadi tren penurunan. Tahun kemarin pada periode Januari hingga Juli sebanyak 146 kasus,” katanya.
Meski demikian, populasi ternak di Grobogan masih mengalami penurunan. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, jumlah ternak di Kabupaten Grobogan mencapai sekitar 135 ribu ekor.
Menurutnya ada banyak faktor yang mempengaruhi jumlah populasi ternak. Diantaranya pemotongan paksa, penjualan ternak, hingga dampak PMK. Selain itu, menurunnya minat warga untuk kembali beternak karena penyebaran PMK juga ikut mempengaruhi.
“Masih adanya anggapan jika sapi sakit akan mendapatkan justifikasi sebagai agen penyebar PMK,” ungkapnya.
Untuk mengembalikan kepercayaan para peternak, Disnakkan terus menggencarkan vaksinasi sekaligus memberikan edukasi mengenai pencegahan dan pengendalian PMK. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kembali populasi ternak di Grobogan.
Selain itu, Andreas menilai momentum kenaikan harga sapi yang terjadi sejak akhir 2025 dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk kembali mengembangkan usaha peternakan.
“Upaya vaksinasi sebagai upaya terbaik pencegahan dan pengendalian PMK. Yang kedua menumbuhkan kembali minat peternak untuk kembali beternak, sebab harga sapi mulai akhir tahun 2025 hingga saat ini mulai melambung tinggi,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Tia











