GROBOGAN, Harianmuria.com – Petani milenial di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan berhasil mengembangkan budi daya melon organik dengan sistem green house.
Hasil budi daya melon organik itu kini menjadi program unggulan ketahanan pangan desa sekaligus mendukung kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG).
Adalah Eko Yulianingsih, sosok di balik suksesnya budi daya melon organik tersebut. Ia memanfaatkan lahan milik pemerintah desa seluas sekitar 500 meter persegi menjadi kebun melon premium organik berbasis pertanian modern.
Melalui sistem green house, lahan yang sebelumnya kurang produktif kini disulap menjadi perkebunan melon berkualitas. Berbekal ketekunan serta dukungan pemerintah desa dalam program ketahanan pangan, budidaya melon organik tersebut mampu berkembang dan menarik minat masyarakat.
Sejak dirintis sekitar satu tahun lalu, kebun melon ini tidak hanya berfungsi sebagai lahan produksi, tetapi juga berkembang menjadi agrowisata petik melon. Setiap masa panen, warga datang untuk memilih dan memetik langsung buah melon yang diinginkan.
Pengembangan melon organik dipilih karena dinilai lebih ramah lingkungan serta aman dikonsumsi karena bebas pestisida. Saat ini terdapat sekitar 1.100 tanaman melon dengan varietas premium lavender yang dibudidayakan.
Dalam prosesnya, tanaman melon ditanam menggunakan sistem polibag dan dikelola secara organik. Kebutuhan air dipenuhi melalui instalasi pipa yang langsung mengalir ke setiap tanaman, sehingga perawatan menjadi lebih efisien.
Eko Yulianingsih mengatakan perawatan rutin menjadi kunci keberhasilan budi daya melon organik. Dalam waktu 65 hingga 70 hari, tanaman sudah dapat dipanen dengan hasil buah berkisar antara 1 hingga 1,6 kilogram per buah.
“Hasilnya cukup memuaskan, buahnya besar dan manis. Selain dijual, juga banyak pengunjung yang datang untuk petik langsung,” ujarnya, Senin, 13 April 2026.
Harga jual melon organik ini mencapai Rp30 ribu per kilogram. Selain menikmati buah segar, pengunjung juga dapat belajar langsung mengenai teknik budidaya melon organik dari pengelola.
Salah satu pengunjung, Wihana, mengaku tertarik dengan konsep agrowisata tersebut. Menurutnya, selain mendapatkan pengalaman memetik buah, pengunjung juga memperoleh edukasi pertanian modern.
“Seru bisa petik langsung, sekaligus belajar cara menanam melon yang benar,” katanya.
Sementara itu, Bupati Grobogan, Setyo Hadi, berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian modern. Ia menilai budidaya melon organik tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
“Ini bisa menjadi contoh bahwa pertanian modern memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











