BLORA, Harianmuria.com – Puluhan embung dan waduk-waduk yang tersebar di wilayah Kabupaten Blora akan dioptimalkan fungsinya sebagai wadah cadangan air. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak kekeringan seperti krisis air bersih di musim kemarau.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai upaya guna mengurangi resiko kekeringan, baik yang berdampak pada kebutuhan air bersih maupun sektor pertanian.
“Prinsipnya kami siap mendukung penanganan dampak kekeringan, termasuk jika terjadi kekurangan air bersih maupun potensi gagal panen,” ujar Surat, Jumat, 17 Juli 2026.
Saat ini Kabupaten Blora memiliki 78 embung yang menjadi salah satu sumber cadangan air saat musim kemarau. Selain itu, sejumlah waduk besar seperti Waduk Greneng, Waduk Tempuran, dan Waduk Randugunting masih menyimpan cadangan air meski volumenya terus berkurang seiring berlangsungnya musim kemarau.
“Air di waduk-waduk tersebut masih ada, walaupun debitnya semakin menurun,” jelasnya.
Ia menyebutkan total kapasitas tampungan air yang dimiliki mencapai sekitar 18.394.955 meter kubik. Cadangan tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendukung sektor pertanian selama musim kemarau.
Sebagai langkah pendukung, DPUPR juga menyiapkan armada tangki air. Satu armada berada di bawah naungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan satu armada lainnya dari BBWS Pemali Juana.
“Selama ini kami juga bersinergi dengan BPBD dalam pendistribusian air bersih. Penjadwalan distribusi akan terus dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait agar wilayah yang membutuhkan bisa segera terlayani,” kata dia.
Untuk pendistribusian bantuan air bersih, kata dia, nantinya akan dilakukan secara tergabung bersama BPBD Blora. Ia memastikan koordinasi terus dilakukan agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan tidak terjadi tumpang tindih.
“Untuk kekurangan air bersih nanti kami berkolaborasi dengan BPBD. Data akan kami kroscek bersama supaya penanganannya tidak dobel,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Tia











