• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Selasa, Agustus 18, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Ulama-ulama Besar Kabupaten Rembang, Ada yang Dakwahnya Multikultural

Sekar Sari by Sekar Sari
3 September 2022
in Artikel
236 3
POTRET: Masjid Agung Rembang bukti penyebaran ajaran Islam. (Google Map/Harianmuria.com)

POTRET: Masjid Agung Rembang bukti penyebaran ajaran Islam. (Google Map/Harianmuria.com)

1.8k
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

Harianmuria.com – Perkembangan Islam saat ini, merupakan salah satu bentuk perjuangan dakwah yang dilakukan oleh para tokoh ulama. Dalam menyebarkan ajaran Islam ke seluruh Nusantara, para tokoh ulama memiliki catatan sejarah perjalanan yang berbeda-beda.

Di Kabupaten Rembang sendiri terdapat banyak tokoh ulama yang berperan penting dalam penyebaran ajaran Islam. Bahkan makam para tokoh tersebut hingga kini dijadikan tempat tujuan utama para peziarah baik masyarakat lokal Rembang maupun pendatang dari luar. Siapa sajakah mereka? Berikut ulasan para tokoh pendakwah di wilayah Rembang.

Mbah Sambu

Mbah Sambu memiliki nama asli Sayyid Abdurrahman. Mbah Sambu merupakan putra Pangeran Benawa dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, Raja dari Kerajaan Pajang yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam.

Mbah Sambu merupakan guru agama Islam (walinegara). Ketika di Lasem, ia bertemu dengan Adipati Tedjokusuma (Mbah Srimpet). Karena jasanya dalam menumpas aksi perang di pusat kota yang menimbulkan banyak kekacauan, ia pun dijadikan menantu dan diangkat sebagai walinegara Kadipaten Lasem.

Kedatangan Mbah Sambu di Lasem juga disinyalir tidak hanya sekedar menumpas aksi para perompak, namun juga menkosolidasi masyarakat untuk mengusir penjajah Belanda yang berada di rumah Gedong di Desa Turi. Selain itu, Mbah Sambu juga menyiarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Saat itu, wilayah Lasem meliputi Gresik, Tuban, Rembang, Pati, Jepara, dan Sedayu, yang mana, masyarakat sebelumnya meyakini ilmu kejawen Kasunyutan. Sehingga Mbah Sambu dalam melakukan dakwahnya menggunakan metode multikultural.

Namun demikian, tidak banyak sejarah yang memaparkan proses dakwah Mbah Sambu. Akan tetapi masyarakat meyakini bahwa ia merupakan seorang ulama yang mendalami ilmu makrifat. Sehingga dalam berdakwah ia menggunakan pendekatan makrifat pula. Di Lasem, ia mendirikan sebuah masjid yang digunakan untuk berdakwah. Masjid tersebut terletak di Jalan Provinsi Lasem-Sale, Kauman, Mahbong Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Mbah Sambu wafat pada tahun 1671 M dan dimakamkan di kompleks Makam Masjid Jami di Kabupaten Lasem, Jawa tengah.

Mbah Jumali

Mbah Jumali merupakan salah satu sosok ulama atau tokoh yang mempunyai peran dalam penyebaran agama Islam di Rembang. Ia salah satu keturunan dari Mbah Sambu yang makamnya berada di lingkungan Masjid Agung Lasem. Pada tahun 1734 M, Mbah Jumali mencari sebuah hutan yang belum berpenghuni dan hendak ia jadikan tempat untuk berdakwah. Disana ia membangun sebuah gubuk atau padepokan di pinggir sungai.

Saat terjadi hujan deras, hal aneh sering terjadi di padepokan. Setiap kali banjir datang, airnya tidak pernah mengenai padepokan. Air banjir yang datang hanya terbendung secara ghoib di sekitar padepokan. Karena kemampuannya itu, namanya semakin tenar dan semakin melambung. Bahkan penguasa Rembang pada waktu itu merasa segan dan sangat menghormatinya. Tak lama kemudian, padepokan itu semakin berkembang pesat. Lambat laun banyak penduduk yang mulai berdatangan untuk belajar agama Islam dan menjadikan wilayah itu untuk tempat tinggal.

Meski tempat tersebut sudah menjadi perkampungan yang padat penduduk, namun suasana angker atau mistis dari dua batu di pinggir sungai masih terasa di sana. Untuk menghilangkan prasangka buruk yang terjadi di tengah masyarakat, Mbah Jumali memiliki cara unik dengan membuang hajat besar atau kecil di atas kedua batu angker itu setiap hari. Hal yang dilakukan Mbah Jumali itu, ternyata berhasil membuang fikiran negatif warga setempat tentang keangkeran kedua batu tersebut.

Semakin lama, padepokan Mbah Jumali semakin berkembang dengan pesat. Untuk mengapresiasi perjuangan dakwah yang dilakukannya, warga setempat menamai perkampungan tersebut dengan Desa Tuyuhan. Kata tersebut berasal dari kata Watu Kanggo Wuyuhan (batu tempat untuk membuang hajat besar atau kecil).

Hingga kini, keberadaan kedua batu yang berada di pinggir sungai masih ada hingga sekarang. Batu tersebut dapat dijadikan bukti atas kebenaran cerita dakwah dari Mbah Jumali. Kini padepokan tersebut telah berubah menjadi pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang ulama bernama Kyai Ahmadi yang juga memiliki nasab dengan Mbah Jumali.

Belum diketahui secara pasti kapan Mbah Jumali wafat. Hanya saja, sosok Mbah Jumali diketahui dimakamkan di Desa Tuyuhan Kidul, Tuyuhan, Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Mbah Ma’shum

KH Ma’sum Ahmad memiliki nama kecil Muhammadun, lahir pada 1868 Masehi. Ia merupakan putra dari H. Ahmad dan Qasimah, namun ia terkenal dengan sebutan Mbah Ma’sum. Selain itu, memiliki silsilah dan hubungan darah dengan Sultan Minangkabau yang bersambung hingga ke Rasulullah Saw. Karena suka mengembara, Mbah Ma’sum menimba ilmu hingga mendatangi belasan pondok pesantren dari Jepara hingga ke Makkah.

Mbah Ma’sum merupakan pendiri Pondok Pesantren (ponpes) Al Hidayah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah dan menjadi salah satu kiai yang disegani dan dihormati banyak kalangan. Menurut beberapa sumber yang ada, salah satu karomah yang dimiliki oleh Mbah Ma’sum adalah ia dapat mengetahui waktu kapan dirinya akan meninggal. Peristiwa tersebut terjadi ketika ziarah wafatnya Mbah Baidhowi, ia duduk di depan peti jenazahnya dan seolah tengah berbicara dengan mengatakan dirinya akan menyusul dua tahun lagi.

Perkataan yang diucapkannya pun bernar terjadi. Mbah Ma’sum meminggal tepat dua tahun setelahnya, yakni pada tanggal 28 April 1972 (14 Robiul Awal 1392 H) pukul 14.00 WIB, selesai shalat Jum’at kemudian dikebumikan di komplek pemakaman Masjid Jami’ Lasem Rembang.

Nyai Ageng Maloka

Nyai Ageng Maloka merupakan putri dari Sunan Ampel dan kakak dari Sunan Bonang. Ia dipercayai oleh masyarakat Rembang sebagai mubaligh pertama di tanah Jawa. Ia menetap di Lasem setelah sah menjadi istri dari Pangeran Wiranegara yang pada saat itu juga tengah berguru kepada Sunan Ngampel.

Penyebaran Islam di masa Nyai Ageng Maloka di buktikan dengan keberadaan masjid tua di daerah Gedongmulyo, yaitu adanya Masjid Tiban. Keberadaan masjid ini menunjukkan bahwa pada masa itu perkembangan Islam di Lasem telah meluas dari yang awalnya di Bonang Binangun sampai kawasan Masjid Tiban.

Sementara itu, Nyai Ageng Maloka sendiri sangat gigih menyebarkan agama Islam, terutama kepada kalangan perempuan. Sejumlah putri dari para wali, seperti putri Sunan Kudus dan Sunan Muria ikut berguru menimba ilmu kepada Nyai Ageng Maloka hingga akhir hayatnya. Sebagai seorang adipati, dia mampu menciptakan ruang dakwah bagi Sunan Bonang, sehingga dapat memajukan Islam. Hal ini menunjukkan kalau Nyai Ageng Maloka punya peranan penting dalam kemajuan karir dakwah Sunan Bonang dan perkembangan Islam di Lasem.

Nyai Ageng Maloka wafat usia 39 tahun dan dimakamkan di pinggir Pantai Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem, Rembang, Di pelataran makamnya juga terdapat beberapa makam, salah satunya makam putra Raden Patah, yaitu Pangeran Surowiyoto.

Itulah beberapa nama tokoh ulama yang diyakini masyarakat Rembang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam. Dari keempat tokoh di atas, masih banyak tokoh lain yang turut menyukseskan dakwah Islam di Rembang sampai sekarang. (Kontributor Uin – Harianmuria.com)

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Info RembangMbah JumaliMbah Ma’shumMbah SambuNyai Ageng Malokarembangulama besar rembang
SummarizeShare132SendShare
Previous Post

Pj Sekda Sugiono Mendadak Dilantik Jadi Sekda Difinitif, Ini Kata Bupati Kendal

Next Post

Pengelola Pantai Nilai Breakwater Sendang Sikucing Belum Penuhi Standar

Sekar Sari

Sekar Sari

Berita Terkait

Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Pulau Gede Rembang Semarakkan HUT ke-81 RI

Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Pulau Gede Rembang Semarakkan HUT ke-81 RI

by ulfa puspa
17 Agustus 2026
516

REMBANG, Harianmuria.com – Bendera Merah Putih berkibar di bawah laut perairan Pulau Gede, Kabupaten Rembang, Senin, 17 Agustus 2026. Bendera dikibarkan di kedalaman sekitar 10 meter di bawah...

Museum RA Kartini Rembang Tutup Sementara untuk Fumigasi, Ini Penjelasannya

Museum RA Kartini Rembang Tutup Sementara untuk Fumigasi, Ini Penjelasannya

by ulfa puspa
15 Agustus 2026
526

REMBANG, Harianmuria.com – Museum RA Kartini Rembang tutup sementara 13 hingga 18 Agustus 2026. Penutupan tersebut untuk perawatan rutin menggunakan metode fumigasi, yaitu pembasmian hama yang dapat merusak...

Sekolah Rakyat di Rembang Punya Lapangan Mini Soccer Berstandar FIFA, Masih Tunggu Finishing

Sekolah Rakyat di Rembang Punya Lapangan Mini Soccer Berstandar FIFA, Masih Tunggu Finishing

by ulfa puspa
14 Agustus 2026
518

REMBANG, Harianmuria.com – Tiga fasilitas olahraga Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang telah rampung dan siap digunakan. Ketiga fasilitas olahraga tersebut yakni lapangan voli dan basket berstandar nasional serta...

HUT ke-81 RI, POSSI Rembang akan Kibarkan Merah Putih di Bawah Laut Pulau Gede

HUT ke-81 RI, POSSI Rembang akan Kibarkan Merah Putih di Bawah Laut Pulau Gede

by ulfa puspa
14 Agustus 2026
556

REMBANG, Harianmuria.com – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia akan dilakukan dengan cara berbeda oleh Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kabupaten Rembang. Empat penyelam POSSI Rembang akan...

Load More

BERITA UTAMA

Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Pulau Gede Rembang Semarakkan HUT ke-81 RI

Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Pulau Gede Rembang Semarakkan HUT ke-81 RI

17 Agustus 2026
516
Bus Trans Jateng Koridor Magelang-Temanggung Ditarget Beroperasi 2027

Bus Trans Jateng Koridor Magelang-Temanggung Ditarget Beroperasi 2027

16 Agustus 2026
530
Para siswa SD Negeri Terpencil Bainaa Barat di Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah berdiri di atas Jembatan Garuda yang selesai dibangun. (Istimewa)

Jembatan Garuda Bainaa Barat Selesai, Siswa SD Terpencil Tak Lagi Seberangi Sungai untuk Sekolah

14 Agustus 2026
530
KUA-PPAS 2027 Disepakati, DPRD Kudus Kawal Penggunaan APBD Sesuai Aspirasi Masyarakat

KUA-PPAS 2027 Disepakati, DPRD Kudus Kawal Penggunaan APBD Sesuai Aspirasi Masyarakat

14 Agustus 2026
530

TRENDING HARI INI

  • HUT ke-81 RI, Bupati Kendal Ajak Masyarakat Gotong Royong Bangun Negeri

    HUT ke-81 RI, Bupati Kendal Ajak Masyarakat Gotong Royong Bangun Negeri

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Anak PMI Asal Gresik Jadi Paskibraka KBRI Kuala Lumpur, Titip Harapan untuk Pendidikan

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Gubernur Anwar Hafid Minta Forum Pemuda Sulteng Jadi Motor Pembangunan Daerah

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Karantina Jawa Tengah Gaungkan Semangat Kemerdekaan untuk Perkuat Kedaulatan Hayati

    94 shares
    Share 38 Tweet 24
  • 76 Warga Binaan Rutan Blora Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Merah Putih Berkibar, Veteran Asal Jepara Kenang Kembali Pengabdian di Timor Timur

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • HUT ke-81 RI, Wali Kota Semarang Minta Semangat Kemerdekaan Tak Berhenti di Seremoni

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Dinkes Rembang Buka Aduan Masyarakat, Tenaga Puskesmas Dilatih Service Excellence

Dinkes Rembang Buka Aduan Masyarakat, Tenaga Puskesmas Dilatih Service Excellence

28 Juli 2026
520
HUT RSUD dr R Soetrasno, Wabup Rembang Minta Peningkatan Mutu Layanan

HUT RSUD dr R Soetrasno, Wabup Rembang Minta Peningkatan Mutu Layanan

10 Februari 2026
552

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya