PATI, Harianmuria.com – Isu politik yang terjadi di tanah air maupun di tataran internasional menjadi pokok bahasan ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 165 yang bertajuk “…Dan Udara Pun Beracun…” pada Sabtu, 20 September 2025. Dalam situasi yang serba tidak jelas seperti sekarang ini, semua pihak diharap dapat memeriksa kembali posisinya.
Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, menyebut pergerakan yang terjadi baru-baru ini terlihat adanya aksi organik atau yang murni terjadi karena keresahan masyarakat. Bukan by design atau diatur oleh kelompok tertentu.
Aksi Rakyat Adalah Sinyal, Bukan Kebisingan
Menurut Anis, aksi yang dilakukan rakyat adalah isyarat bahwa tak ada lagi saluran yang dapat dipakai untuk menyuarakan persoalan mereka. “Jadi jangan menganggap aksi tersebut sekadar sebagai noise, sekadar kebisingan, tapi kode adanya persoalan serius di tengah rakyat,” katanya.
“Jadi jangan malah noise-nya yang dipersoalkan dan kemudian dibungkam, tapi dicari akar persoalannya. Bila apa yang dianggap noise terus-menerus dibungkam, justru akan menumpuk dan sewaktu-waktu menjadi ledakan besar,” sambungnya.
Anis berpesan agar penguasa jangan seolah-olah selalu bisa dan harus menguasai rakyat, apalagi membungkamnya. Dia mengingatkan bahwa kondisi rakyat itu seperti raksasa tidur.
“Jangan buat marah, karena kalau sudah marah tentu tidak ada yang bisa mengatasinya. Kita beruntung tidak sampai seperti Nepal,” katanya.
Rakyat bukan Musuh, Mereka Ingin Didengar
Oleh karena itu, pemerintah diharapkan bisa membuat kebijakan yang tidak membuat rakyat marah. Dia juga berharap pemerintah tidak mengatakan jika rakyat memusuhi negara atau pejabat.
“Mereka sebenarnya hanya ingin didengar, mengungkapkan pada pemerintah untuk melakukan tugas sebagaimana mestinya. Maka jangan jadikan rakyat sebagai ancaman. Rakyat jadi ancaman kalau pemimpinnya tidak bertindak sebagaimana mestinya,” ujar dia.
Ketidakadilan Jadi Pemicu Aksi Massa
Aksi itu, lanjut Anis, lazim terjadi ketika ketidakadilan terlihat sangat mencolok. Apalagi di era media sosial seperti sekarang. Terlebih saat masyarakat sulit mencari kerja, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun berbagai ketimpangan lainnya.
“Ketika mereka lapar tentu akan sensitif saat melihat orang lain begitu mudah melakukan praktik korupsi. Dalam satu teori, ketidakadilan merupakan kekerasan yang paling pertama dan akan melahirkan kekerasan-kekerasan berikutnya,” sesalnya.
Anis juga menyoroti perilaku politisi yang dalam proses pemilihan seolah-olah melakukan praktik ‘beli-putus’ suara rakyat. Karena merasa sudah membeli, tak mengherankan bila setelah terpilih seolah tak ada lagi ikatan dengan rakyat.
“Uang menjadi utama. Maka penguasaan ekonomi juga menjadi utama, karena adanya uang dianggap dapat menyelesaikan semua masalah,” imbuhnya, dalam Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Pati.
Anis juga menyoroti persoalan perampasan buku lantaran diduga menjadi penyebab aksi massa beberapa waktu terakhir ini.
“Bisakah buku melahirkan pergerakan jika keadilan benar-benar terwujud? Maka sebenarnya sumbernya bukanlah buku melainkan ketidakadilan sendiri. Jadi jangan hanya menyalahkan rakyat,” tandasnya.
Waspada Narasi Sesat di Era AI
Anis juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi narasi palsu di era digital dan kecerdasan buatan (AI). Ia mencontohkan maraknya deep fake yang menyerang tokoh publik untuk memancing kemarahan rakyat.
“Di era AI sekarang ini, rawan berkembang narasi menyesatkan jika tak dipilah dengan baik. Jika tidak hati-hati, tentu kita akan termakan oleh pancingan semacam ini,” ungkapnya.
Karena itu, Anis mengajak seluruh masyarakat untuk dapat menjaga kedaulatan pikirannya, lebih-lebih dalam bermedia sosial. “Bermedsos boleh saja untuk konsumsi hiburan, tapi dengan porsi yang tepat dan penggunaan yang bijak,” imbuh dia.
Ruang kontemplasi itu makin hangat saat kelompok musik Sampak GusUran mengisi ngaji budaya tersebut. Tampak ribuan orang terlarut dalam diskusi yang digelar secara luring maupun lewat berbagai kanal media sosial Suluk Maleman.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










