BLORA, Harianmuria.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora menyoroti air limbah rumah tangga sebagai salah satu faktor pemicu terjadinya fenomena tanah ambles di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo. Peristiwa ini telah berlangsung lebih dari lima bulan.
Limbah Rumah Tangga Masuk Rekahan Tanah
Kepala Bidang Sumber Daya Alam DPUPR Blora, Surat, menjelaskan bahwa selain faktor hujan, pengendalian drainase limbah rumah tangga menjadi perhatian serius dalam kasus tanah ambles ini.
“Pengendalian drainase dari limbah rumah tangga ini penting, supaya tidak masuk ke rekahan-rekahan tanah yang sudah ada,” ujar Surat usai meninjau lokasi bersama BBWS Pemali Juana, Senin, 5 Januari 2025.
Ia mengimbau warga agar tidak membuang air bekas mandi, mencuci, maupun kebutuhan harian lainnya langsung ke tanah.
“Jangan sampai air limbah dialirkan dan kembali masuk ke dalam tanah. Ini penting untuk mencegah kondisi makin parah,” tegasnya.
Baca juga: Tanah Ambles di Blora Dipicu Curah Hujan Tinggi, ESDM Pastikan Bukan Akibat Lempeng Bumi
Warga Diminta Kelola Sampah
Selain persoalan limbah, DPUPR Blora juga menyoroti masalah sampah yang berpotensi memperparah kondisi tanah ambles. Mengingat situasi ini bersifat kebencanaan, Surat menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Masyarakat diharapkan tidak membuang sampah ke sungai atau di jalur tanah yang mengalami retak. Jika memungkinkan, kurangi beban di lokasi tanah ambles agar kondisinya tidak semakin parah,” imbaunya.
Warga Diimbau Tenang dan Siaga Mengungsi
DPUPR Blora mengimbau warga terdampak maupun yang tinggal di sekitar lokasi agar tidak panik, namun tetap waspada terhadap potensi pergerakan tanah lanjutan.
“Yang terpenting tidak perlu panik, tetapi harus siap berpindah jika terjadi pergerakan tanah. Mengungsi sementara ke rumah tetangga atau tempat aman adalah langkah mitigasi untuk menghindari korban jiwa,” jelas Surat.
Baca juga: Tanah Ambles di Buluroto Blora Rusak 3 Rumah, Tim Lintas Instansi Tunggu Rekomendasi BBWS
Perbaikan Prioritaskan Bibir Sungai Lusi
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, DPUPR Blora akan memprioritaskan perbaikan struktur tanah di sepanjang Sungai Lusi, khususnya di bagian bibir sungai.
“Sekitar 30 meter di sepanjang aliran Sungai Lusi akan menjadi prioritas penanganan, terutama di bagian bawah,” terangnya.
Penataan alur air juga akan dilakukan agar air tidak merembes ke berbagai arah dan memperparah kondisi tanah.
Drainase Jadi Solusi Tahan Rembesan
Setelah bagian bawah dinilai stabil, DPUPR Blora akan melakukan evaluasi lanjutan terhadap aliran air permukaan, baik dari hujan maupun limbah rumah tangga.
Menurut Surat, pembuatan drainase menjadi solusi untuk menahan rembesan air langsung ke tanah.
“Dengan sistem drainase, air tidak langsung masuk ke tanah. Penanganan akan dilakukan bertahap agar optimal,” katanya.
Saat ini, kekhawatiran utama adalah tingginya intensitas hujan, yang membuat pengendalian air di area rekahan menjadi sulit.
Berdasarkan data DPUPR Blora, terdapat enam rumah warga yang terdampak langsung. Panjang area tanah yang mengalami ambles mencapai 50 meter, dengan kedalaman bervariasi antara 30 hingga 50 sentimeter.

BBWS Siapkan Pembuatan Drainase
Pelaksana Teknis BBWS Pemali Juana, Agus Yanto, menyampaikan bahwa pengerjaan drainase direncanakan mulai bulan ini.
“Saat ini masih tahap pengukuran dan koreksi lapangan. Kami berharap debit air Sungai Lusi tidak naik agar pengerjaan bronjong bisa berjalan maksimal,” jelasnya.
DPUPR Blora dan BBWS Pemali Juana berharap proses penanganan dapat segera terlihat setelah alat berat diturunkan ke lokasi.
Hingga saat ini, DPUPR Blora mencatat wilayah di tiga kecamatan terdampak fenomena tanah ambles, yakni Desa Sambiroto (Kecamatan Banjarejo), Dukuh Ngetrep, Desa Tutup (Kecamatan Tunjungan), dan Desa Puledagel (Kecamatan Jepon).
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki









