BLORA, Harianmuria.com – Menyusul kebakaran hebat di sumur minyak ilegal yang terjadi di Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Blora bergerak cepat dengan membuka dapur umum bagi ratusan warga yang mengungsi.
Menurut Koordinator Tagana Dinsos P3A Blora, Gaguk Setyawan, jumlah pengungsi yang tercatat saat ini mencapai 750 jiwa, tersebar di 9 RT dalam 2 RW.
“Pengungsi berasal dari satu dukuh, RW 1 ada lima RT, RW 2 ada empat RT. Totalnya 750 jiwa,” ujar Gaguk, Selasa, 19 Agustus 2025.
Baca juga: 750 Warga Mengungsi akibat Kebakaran Sumur Minyak Ilegal di Blora, Api Belum Padam
Dapur Umum Sediakan 900 Porsi Makanan per Hari
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, dapur umum yang beroperasi di Balai Desa Gandu tersebut menyiapkan sekitar 900 porsi makanan setiap hari. Porsi itu tidak hanya ditujukan bagi para pengungsi, tetapi juga untuk para relawan dan petugas penanggulangan bencana.
“Sekali masak, kami menggunakan sekitar 65 kilogram beras. Satu kilogram bisa jadi 12 hingga 13 porsi. Untuk anak-anak, belum ada menu khusus, tapi porsinya disesuaikan,” jelasnya.
Meskipun posko utama berada di balai desa, tidak ada pengungsi yang menginap di sana. Sebagian besar warga terdampak mengungsi ke rumah sanak saudara atau tetangga yang tidak terdampak. Tenda yang disediakan hanya digunakan untuk dapur umum dan penyimpanan logistik.
15 Relawan Tagana Dibantu Polwan dan PKK
Proses memasak ditangani oleh 15 relawan Tagana, dibantu oleh personel Polwan dari Polres Blora dan ibu-ibu PKK desa. Sementara itu, warga setempat belum dilibatkan secara langsung.
“Kami ingin warga bisa ikut terlibat, tapi saat ini kebutuhan masih mencukupi. Kegiatan memasak ini juga bagian dari dukungan psikososial bagi korban,” imbuh Gaguk.

Warga Masih Trauma: Rumah Dekat Lokasi Ledakan
Sejumlah warga mengaku trauma atas kejadian ini. Sabit (62), warga Dukuh Gendono, menyebut rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari sumur minyak yang meledak.
“Saya dengar suara letusan keras, api langsung terlihat besar. Ini kejadian pertama yang saya alami,” ujarnya.
Sementara itu, Suyarmi (42), warga RT 5 RW 1, menceritakan bahwa ia segera menyelamatkan dokumen penting, pakaian, dan hewan ternak setelah ledakan terjadi.
“Rumah saya juga dekat lokasi. Setelah ledakan, saya langsung angkut barang-barang penting dan ternak ke tempat aman,” katanya.
Hingga hari ketiga pascakebakaran, api di lokasi sumur minyak ilegal tersebut belum berhasil dipadamkan. Tim gabungan masih berjibaku melakukan upaya pemadaman dan pemantauan di lapangan.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki









